Archive for June 17th, 2008
Seorang Pelancong dan Anjingnya
Ada seorang pelancong dan anjingnya berjalan sepanjang jalan. Orang itu sedang menikmati pemandangan, ketika ia menjadi sadar bahwa ia telah mati. Ia ingat bahwa ia telah mati dan bahwa anjingnya yang berjalan di sampingnya juga sudah bertahun-tahun mati. Ia bertanya-tanya jalan itu menuju ke mana.
Setelah beberapa waktu, mereka sampai kepada sebuah dinding dari batu putih yang tinggi di pinggir jalan. Kelihatannya seperti batu marmer berwarna putih. Di puncak bukitnya, dinding itu berakhir dengan sebuah gerbang yang tinggi yang bersinar di dalam terang matahari.
Ketika ia berdiri di depannya, ia melihat sebuah pintu dalam gerbang itu yang kelihatannya seperti mutiara dan jalan-jalannya yang berakhir di gerbang itu juga terbuat dari emas murni.
Ia dan anjingnya berjalan menuju gerbang itu dan setelah mengamatinya lebih seksama, ia melihat seseorang yang sedang duduk di belakang sebuah meja tulis.
Ketika orang itu sudah cukup dekat, ia berseru, “Maaf, pak, di mana kita berada?”
Orang itu menjawab, “Ini adalah sorga”
“Astaga! Apakah Anda kebetulan mempunyai sedikit air?”
“Tentu saja, pak. Marilah masuk dan ambillah segelas air es!“ Orang itu memberi gerak isyarat untuk masuk dan pintunya mulai terbuka.
Pelancong itu kemudian bertanya, “Apakah kawanku juga dapat masuk?” sambil menuding kepada anjingnya.
“Maaf, pak, tetapi kami tidak diperkenankan memasukkan anjing.”
Pelancong itu berpikir sejenak, membalikkan dirinya ke arah jalan dan melanjutkan perjalanannya dengan anjingnya.
Setelah mereka berjalan cukup lama, mereka tiba kepada sebuah jalan dari tanah yang menuju kepada sebuah gerbang suatu peternakan yang kelihatannya tidak pernah ditutup. Juga tidak terlihat adanya pagar. Ketika pelancong itu tiba di gerbang, ia melihat seseorang di dalamnya yang bersandar kepada sebuah pohon dan sedang membaca buku.
Maaf pak, apa Anda mempunyai sedikit air?”
“Ya, tentu. Di sana ada sebuah pompa”. Orang itu menunjuk kearah suatu tempat yang tak dapat terlihat dari luar gerbang. “Marilah masuk”.
“Bagaimana dengan kawanku ini?”, sambil menunjuk kepada anjingnya.
“Seharusnya di sana juga ada mangkok dekat pompa itu”.
Mereka masuk melalui gerbang itu dan benar, ada sebuah pompa tangan yang kuno dan sebuah mangkok di sampingnya. Pelancong itu mengisi penuh mangkoknya dengan air, dan meminumnya. Kemudian ia membiarkan anjingnya minum sampai puas. Kemudian mereka kembali kepada orang di gerbang itu yang sedang menanti mereka.
“Apakah nama tempat ini?” tanya pelancong itu.
“Tempat ini adalah sorga”, jawab orang itu.
“Ini sungguh membingungkan”, kata pelancong itu, “orang di sana tadi juga mengatakan bahwa tempat itu juga sorga.”
“Oh, Anda maksudkan tempat dengan jalan dari emas murni dan gerbang dari mutiara itu? Tidak. Itu adalah neraka!”
“Apakah Anda tidak marah bahwa mereka menggunakan namamu yang sama?”
“Tidak! Aku mengerti jalan pikiranmu, tetapi kami justru senang bahwa mereka menyaring orang-orang yang meninggalkan kawan-kawan baiknya”.
source : unknown
Add comment Tuesday, 17 June 2008
Kisah 4 Lilin
Ada 4 lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Lilin pertama berkata, “Aku adalah DAMAI. Namun manusia tak mampu menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Lilin kedua berkata, “Aku adalah IMAN. Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara, “Aku adalah CINTA. Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata, “Ekh apa yang terjadi? Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata, “Jangan takut, janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya:
“Akulah H A R A P A N”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N yang ada dalam hati kita dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!
source : unknown
Add comment Tuesday, 17 June 2008
Humor : Kenapa Indonesia tidak menjadi Negara Maju?
Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu2 yang tidak bermutu & mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi.
Mari kita buktikan :
Lagu pertama:
‘Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru … meletus balon hijau , dorrrr!!!’
Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba2 muncul warna hijau?
Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! -
Lagu kedua:
‘Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang…
kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!’
Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait
kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : ‘mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalo berjalan prok..prok.. prok..’ nah, itu baru klop!
jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :
‘mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..’ itu baru sesuai dgn kondisi pedang panjangnya!
Lagu ketiga:
‘Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..’ Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur.
Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!
Lagu keempat:
‘Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali..kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon
cemara..2X’
Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!
Lagu kelima:
‘Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Sby.. bolehlah naik dengan naik percuma..ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama’
Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah
dewasa maunya gratis melulu.
Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Malang dan Jakarta-Surabaya!
Lagu keenam:
‘Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak
jemu2..mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..’
Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg
sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit !
kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu anak2 dgn presenter agnes monica waktu dia masih kecil adalah tra la la tri li li!), bukan burung!
Lagu ketujuh
‘Pok ame ame .. belalang kupu2… siang makan nasi, kalo malam minum susu..’
Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak2!
Karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak
kecil.
Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya
minum susu!
Lagu kedelapan
‘Nina bobo nina bobo oh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk’
Menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg penuh nada mengancam. Dan justru waktu tidur kita sering digigit nyamuk
Lagu kesembilan:
‘Bintang kecil dilangit yg biru…’
Ini menunjuk pada sesuatu yang tidak pada kenyataan dan membingungkan
Bintang khan adanya malem, lah kalo malem kok warna langitnya biru?
Lagu Kesepuluh:
‘Ibu kita Kartini…harum namanya’
Mana yang benar… tidak pernah memperoleh penjelasan Ibu kita itu namanya Kartini atau Harum?
Lagu kesebelas:
‘Pada hari minggu kuturut ayah ke kota …naik delman istimewa kududuk di muka’
Apakah memang anak harus duduk di depan? seperti kita lihat mereka yang menggunakan sepeda motor sekarang ini…. anak selalu di depan
Lagu keduabelas:
‘Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…’
kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur? mungkin yang inilah yang membuat kita-kita ini semua sekarang menjadi orang yang tidak bisa berpikir jernih
Perhatian :
Ini cuma sekedar humor, g yakin Indonesia suatu saat akan menjadi bangsa yang maju dan disegani, yg penting korupsinya dulu diberesin. hehehe
Add comment Tuesday, 17 June 2008
8 Kebohongan Seorang Ibu
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: ‘Makanlah nak, aku tidak lapar’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : ‘Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :’Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.’ Ibu tersenyum dan berkata :’Cepatlah tidur nak, aku tidak capek’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :’Minumlah nak, aku tidak haus!’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : ‘Saya tidak butuh cinta’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : ‘Saya punya duit’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku ‘Aku tidak terbiasa’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : ‘jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan’ ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ‘ Terima kasih ibu !’
———————————————————
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata ‘MENYESAL’ di kemudian hari.
source : unknown
Add comment Tuesday, 17 June 2008



